Wednesday, March 20, 2019

Refleksi 4 - "Penilaian Evaluasi"


Refleksi
“Evaluasi Proses dan Hasil Pembelajaran Matematika”

Nama              : BJ NOFRIAN KURNIA
NIM                : P2A918008
Materi             : Penilaian Evaluasi

1.      Apa yang telah saya pahami?
Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai yang mencakup watak seperti perasaam, minat, sikap, emosi dan nilai.
Aspek penilaian afektif yaitu :
a.       Menerima (receiving) yaitu kesadaran, keinginan untuk menerima stimulus, respon control dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar.
b.      Menanggapi (responding) yaitu reaksi yang diberikan terhadap stimulus.
c.       Menilai (valuing) yaitu meliputi kesadaran menerimma norma, system nilai dan lain sebagainya.
d.      Mengorganisasi (organization) yaitu pengelolaan dari informasi dan diolah untuk lebih dipahami.
e.       Membentuk watak (characterization) yaitu mengendalikan semua perilaku pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup.
2.      Apa yang belum saya pahami?
Saya belum memahami bagaimana sebenarnya penilaian sikap dalam pembelajaran matematika tersebut, apakah nilainya sudah bagus cukup untuk menentukan bahwa afektif dalam matematikanya juga bagus?
3.      Usaha-usaha apa saja yang dilakukan supaya paham?
Mencoba memahami lagi dan lagi tentang apa itu penilaian afektif dalam matematika dan mencoba bertanya kepada dosen, guru senior serta teman-teman dan tidak lupa saya mencari dari berbagai sumber berupa buku, jurnal.
4.      Apa yang saya dapatkan dari teman diskusi?
Selama berdiskusi dengan teman-teman saya mendapatkan pencerahan bahwa penilaian afektif ini bukan Cuma dilihat dari nilai tapi sesungguhnya dilihat dari sikap siswa, apakah mereka enjoy dengan matematika merasa nyaman dan bahagia saat belajar matematika adalah faktor yang penting dalam penilaian afektif.

5.      Apa yang dapat saya berikan?
Mampu menyumbangkan pendapat berupa menjelaskan pengertian lebih mendalam terhadap apa saja aspek yang perlu dinilai pada penilaian afektif dan ternyata penilaian afektif lebih susah dilakukan dari pada penilaian biasa karena penilaian afektif membutuhkan waktu dan dedikasi seorang dosen maupun guru serta diperlukannya kejelasan dan ketransparansi dari dosen maupun guru.

Refleksi 3 - "Domain Psikomotor"


Refleksi
“Evaluasi Proses dan Hasil Pembelajaran Matematika”

Nama              : BJ NOFRIAN KURNIA
NIM                : P2A918008
Materi             : Domain Psikomotor

1.      Apa yang telah saya pahami?
Ranah psikomotorik adalah ranah yang berhubungan dengan skill (kemampuan) penilaian psikomotorik biasanya dilakukan dilakukan dengan tes unjuk kerja atau tes perbuatan (praktek).
Aspek penilaian psikomotor ada meniru (perception), menyusun (manipulating), melakukan dengan prosedur (precision), melakukan dengan baik dan tepat (articulation) dan melakukan tindakan secara alami (naturalization).
Kriteria atau rubrik adalah pedoman penilaian kinerja atau hasil kerja peserta didik. Dengan adanya kriteria, penilaian yang subjektif atau tidak adil dapat dihindari atau paling tidak dikurangi, guru menjadi lebih mudah menilai prestasi yang dapat dicapai peserta didik, dan peserta didik pun akan terdorong untuk mencapai prestasi sebaikbaiknya karena kriteria penilaiannya jelas.
Rubrik terdiri atas dua hal yang saling berhubungan. Hal pertama adalah skor dan hal lainnya adalah kriteria yang harus dipenuhi untuk mencapai skor itu. Banyak sedikitnya gradasi skor (misal 5, 4, 3, 2, 1) tergantung pada jenis skala penilaian yang digunakan dan hakikat kinerja yang akan dinilai.

Penilaian yang diselenggarakan oleh pendidik mempunyai banyak kegunaan, baik bagi peserta didik, satuan pendidikan, ataupun bagi pendidik sendiri. Secara rinci dapat dijelaskan manfaat penilaian, yaitu:
1.      mengetahui tingkat ketercapaian Standar Kompetensi yang sudah dijabarkan ke Kompetensi Dasar.
2.      mengetahui pertumbuhan dan perkembangan kemampuan peserta didik.
3.      mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik
4.      mendorong peserta didik belajar/berlatih.
5.      mendorong pendidik untuk mengajar dan mendidik lebih baik.
6.      mengetahui keberhasilan satuan pendidikan dan mendorongnya untuk berkarya lebih terfokus dan terarah.

Target potensial sikap:
a.       Sikap positif terhadap  pembelajaran
b.      Sikap positif terhadap diri sendiri
c.       Sikap positif terhadap diri sebagai pelajar ( mampu beradaptasi atau fleksibel dengan ilmu yang sudah dimiliki dengan perkembangan terbaru dibidang kimia dan dengan daya juang untuk mandiri)
d.      Sikap yang pantas  terhadap yang berbeda dari sekitar kita (integritas yang konsisten dalam bersikap yang ada dalam diri kita yang berbeda dari yang lain, seperti pdeuli, menghargai orang lain, memberikan pendapat dan menyemangati orang lain)
Target potensial yang paling diminati :
a.       Tertarik pada spesifik subjek
b.      Tertarik pada subjek hubungan aktivitas
c.       Tertarik pada kepentingan orang banyak (peduli)
Tertarik dalam usaha-usaha dalam hal yang berbeda dan tidak egois (sikap integritas, peduli dan melawan egoisme sehingga kita memiliki integritas, berupaya untuk tidak egois terhadap orang lain, empati)

2.      Apa yang belum saya pahami?
Saya belum memahami anak melewatkan tahapan sebelumnya, apa yang dimaksud dengan fiksasi / blokade akan ada. Agar berhasil di kemudian hari, seorang anak harus diajar dengan diagram, mainan, instrumen, gadget, dll. Karena anak bersifat eksplorasi (psikomotor), menjadi penting untuk melengkapi anak dengan padatan matematika, bentuk, diagram, dan persiapan lainnya. untuk memahami variabel hipotetis kompleks tidak hanya di dimensi ketiga, tetapi juga, di dimensi keempat (roh atau alam gaib). Ini juga mempersiapkan anak untuk mengenali simbol geometris. Jadi penilaian dalam psikomotorik adalah tahap yang relevan dan akhir untuk berangkat ke dimensi baru atau memiliki umpan balik untuk koreksi, pada bentuk, padatan dan pengukuran mereka.
3.      Usaha-usaha apa saja yang dilakukan supaya paham?
Mencoba mendalami dan memahami dari masing-masing masalah terutama proses penilaian pada pembelajaran matematika yang telah saya ketahui dan mencoba memahaminya untuk diri sendiri dengan mengujicobakannya sampai saya mampu menyesuaikan dengan semua keterampilan agar saya juga mampu menerapkan penilaian pada siswa saya nantinya. Berdasarkan hasil diskusi dengan forum pascasarjana hal ini bisa diatasi dengan karakter pendekatan masing-masing guru serta Mencoba bertanya kepada teman-teman sekelas yang mungkin sudah dulu dalam menempuh hal tersebut serta mencari referensi dari berbagai macam sumber.
4.      Apa yang saya dapatkan dari teman diskusi?
Saat melakukan diskusi beberapa hal yang saya dapatkan yaitu Pendidikan harus ditujukan kepada pengembangan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik agar ranah-ranah itu dapat berkembang secara wajar dan seimbang. Pendidikan seharusnya berusaha dan mengupayakan perkembangan secara menyeluruh dari ketiga ranah tersebut secara seimbang. Untuk menyeimbangkan ke 3 ranah tersebut, maka guru harus mendesain pembelajarann sedemikian rupa agar ke 3 ranah tersebut seimbang, untuk ranah kognitif sudah pasti ada, nah untuk ranah afektif & psikomotornya, misal di dalam pembelajaran guru bisa menyelipkan Pendidikan karakter, terutama yang menyangkut budi pekerti dan akhlak mulia bisa dilakukan melalui karya seni atau yang sesuai dengan konsep Islam. Kemudian guru juga mengajak siswa untuk mempraktikkan apa yg ia pelajari pada ranah kognitif. Jika ke 3 ranah seimbang dan baik, maka insya allah siswa tersebut akan jadi siswa yang pintar secara intelektual, berbudi pekerti secara moral dan terampil.
5.      Apa yang dapat saya berikan?
Yang dapat saya berikan adalah sebuah bahan bacaan untuk semua yang membutuhkan agar kelak mendapat pencerahan berupa solusi permasalahan dalam pendidikan matematika khususnya sehingga terciptanya pembelajaran matematika yang lebih baik


Refleksi 2 - "Penilaian Otentik"


Refleksi
“Evaluasi Proses dan Hasil Pembelajaran Matematika”

Nama              : BJ NOFRIAN KURNIA
NIM                : P2A918008
Materi             : Penilaian Otentik

1.      Apa yang telah saya pahami?
a.       Penilaian otentik adalah penilaian yang sebenarnya penilaian dimana penilaian ini di ambil dari keadaan yang sebenarnya, keadaan dimana siswa dinilai berdasarkan kompetensi yang benar-benar dimiliki oleh siswa.
b.      Penilaian otentik ini perlu karena penilaian otentik bersifat personalized, natural dan fleksibel.
c.       Manfaat penilaian otentik antara lain :
Ø Memungkinkan dilakukannya pengukuran secara langsung terhadap kinerja pembelajar sebagai indikator capain kompetensi yang dibelajarkan;
Ø Memberikan kesempatan pembelajar untuk mengkonstruksikan hasil belajarnya;
Ø Memungkinkan terintegrasikannya kegiatan pengajaran, belajar, dan penilaian menjadi satu paket kegiatan yang terpadu.
2.      Apa yang belum saya pahami?
Pada jenis-jenis penilaian otentik terdapat beberapa hal yang belum saya pahami yaitu pada jenis penilaian lisan dalam hati saya bertanya-tanya apakah siswanya dalam keadaan maksimal, tidak tertekan dan sebagainya.
3.      Usaha-usaha apa saja yang dilakukan supaya paham?
Mencoba bertanya kepada teman-teman sekelas yang mungkin sudah dulu dalam menempuh hal tersebut serta mencari referensi dari berbagai macam sumber
4.      Apa yang saya dapatkan dari teman diskusi?
Dengan adanya diskusi bersama teman-teman wawasan saya bertambah luas, yang awalnya saya tahunya Cuma sedikit tentang penilaian otentik itu apa, bagaimana melakukannya, apa manfaatnya dan jenis-jenisnya namun setelah berdiskusi dengan teman dan argument-argumen yang memadai membuat yang sedikit tadi lama-lama menjadi bukit.

5.      Apa yang dapat saya berikan?
Yang dapat saya berikan kepada teman-teman yaitu memberikan suasana diskusi yang sehat, saling menerima argument dan saran belajar bertoleransi meskipun berbeda-beda tapi tujuan tetap sama. Sama seperti penilaian otentik ini meskipun banyak jenis-jenisnya namun tujuan utamanya tetap sama yaitu untuk menilai keadaan sebenarnya dari siswa.


Refleksi 1 - "Evaluasi Pembelajaran Matematika"


Refleksi
“Evaluasi Proses dan Hasil Pembelajaran Matematika”

Nama              : BJ NOFRIAN KURNIA
NIM                : P2A918008
Materi             : Evaluasi Pembelajaran Matematika

1.      Apa yang telah saya pahami?
Sikap sebagai orang matematika :
a.       Sebagai seorang matematikawan saya memahami sekali bahwa dalam mengevaluasi pembelajaran matematika ini kita harus berdisiplin, memang melakukan evaluasi terhadap pembelajaran matematika ini cukup sulit maka dari itu dibutuhkan dedikasi tinggi sebagai seorang guru nanti, sebagai seorang guru kita harus professional dalam mengevaluasi.
b.      Dalam mengevaluasi pembelajaran ada beberapa langkah;
Ø  Menyusun rencana evaluasi belajar
Ø  Menghimpun data
Ø  Melakukan verifikasi data
Ø  Mengolah dan menganalisis data
Ø  Memberi interpretasi dan menarik kesimpulan
Ø  Tindak lanjut hasil evaluasi
c.       Dan aspek yang dinilai ada 3 yaitu;
Ø  Aspek kognitif
Ø  Aspek apektif
Ø  Aspek psikomotor
2.      Apa yang belum saya pahami?
Dalam melakukan evaluasi ini ada yang saya masih merasa sulit dalam memahaminya yaitu saat akan merencanakan taraf kesukaran soal dan memilih tipe-tipe soal.
3.      Usaha-usaha apa saja yang dilakukan supaya paham?
Saya mencoba memahami dari berbagai pengalaman guru-guru senior dan membaca jurnal tentang yang belum saya pahami
4.      Apa yang saya dapatkan dari teman diskusi?
Banyak sekali yang bisa saya dapatkan dari teman diskusi, pada materi evaluasi khususnya di antaranya :
Ø  Mendapatkan ilmu baru bahwa kognitif yang bagus jika tidak diimbangi dengan apektif dan psikomotor akan percuma
Ø  Berbagi cara bagaimana agar menjadi pendidik yang kreatif suatu hari nanti
Ø  Rendah hati sebagai seorang mahasiswa harus menerima pendapat orang lain jika benar walaupun sedikit menusuk hati
5.      Apa yang dapat saya berikan?
Saya berharap pada blog saya khususnya tentang evaluasi guru-guru ataupun orang yang akan menjadi guru bisa mendapat pencerahan setelah membaca blog saya bisa memahami bagaimana seharusnya kita dalam mengevaluasi pembelajaran matematika



Monday, February 25, 2019

ANALYSIS OF PSYCHOMOTOR DOMAIN AS A RELEVANT FACTOR IN THE UNDERSTANDING OF MATHEMATICAL CONCEPTS



1.      Pengertian Ranah Penilaian Psikomotor

Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, menulis, melukis, menari, memukul dan sebagainya. Menurut Simpson (1956) menyatakan bahwa hasil belajar ranah psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Ranah psikomotor berkaitan dengan aktivitas otot dengan gerakan-gerakan tubuh, anggota tubuh atau bagian tubuh lainnya (mis. Jari) yang diperlukan untuk tindakan tertentu. Mkpa (1984) menjelaskan bahwa domain psikomotorik “peduli dengan hasil dalam bidang keterampilan manipulatif dan tindakan yang membutuhkan koordinasi neuromuskuler”. (hal.90). Gay (1980) percaya bahwa domain psikomotor mensyaratkan kemampuan fisik, yang melibatkan keterampilan otot atau motorik, manipulasi objek atau koordinasi neuromuskuler.
Kamus Chambers Twentieth Century mendefinisikan matematika sebagai "Ilmu tentang besarnya dan jumlah dan semua hubungan mereka ..." (hal. 809). Dapatkah seseorang membayangkan besarnya, jumlah dan hubungan tanpa struktur, model, atau instrumen yang sesuai. Ini panggilan untuk tiga hal: aplikasi psikomotorik kognitif dan afektif ... Berpikir, menghargai dan aktivitas - sirkuit selesai.
Jadi, dalam mengajar matematika, itu harus "berlaku". Psikomotor kemudian menjadi alat yang penting dan krusial untuk memahami matematika.
Ranah psikomotor erat kaitannya dengankerja otot yang menjadi penggerak tubuh dan bagian-bagiannya, mulai dari gerak yang sederhana seperti gerakan-gerakan dalam shalat sampai dengan gerakan-gerakan yang kompleks seperti gerakan-gerakan dalam praktik manask ibadah haji.

Psikomotor versi Simpson ada 7 tingkat:
1.      Persepsi : berkenaan dengan penggunaan organ indera untuk menangkap isyarat yang membimbing aktivias gerak
-          Kesadaran terhadap stimulus
-          Pemilihan tugas yang relevan
-          Isyarat ke tindakan
2.      Kesiapan : menunjukkan kesiapan untuk melakukan tindakan tertentu
-          Kesiapan mental
-          Kesiapan fisik
-          Kesediaan bertindak
3.      Gerakan terbimbing : tahapan awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks,
4.      Gerakan terbiasa : gerakan yang dilakukan dengan penuh keyakinan dan kecakapan tetapi belum mahir
5.      Gerakan kompleks : gerakan yang sangat terampil dengan pola-pola gerakan yang sangat kompleks
6.      Gerakan pola penyesuaian: berkenaan dengan keterampilan yang dikembangkan dengan baik sehingga seorang dapat memodifikasi pola-pola gerakan untuk menyesuiakan situasi tertentu
7.      Kreativitas : menunjukkan kepada penciptaan pola-pola gerakan baru untuk menyesuaikan situasi tertentu atau problem khusus.

Tabel  Kaitan antara kegiatan pembelajaran dengan domain tingkatan aspek Psikomotorik
Tingkat
Deskripsi
I. Gerakan Refleks
Arti: gerakan refleks adalah basis semua perilaku bergerak, respons terhadap stimulus tanpa sadar.
Misalnya: melompat,menunduk,berjalan,menggerakkan leher dan kepala, menggenggam, memegang.
Contoh kegiatan belajar:
        Mengupas mangga dengan pisau
        Memotong dahan bunga
        Menampilkan ekspresi yang berbeda
        Meniru gerakan polisi lalulintas, juru parker
        Meniru gerakan daun berbagai tumbuhan yang diterpa angin
II Gerakan dasar (basic fundamental movements)
Arti: gerakan ini muncul tanpa latihan tapi dapat Diperhalus melalui praktik gerakan ini terpola dan dapat ditebak.
Contoh kegiatan belajar:
        Contoh gerakan tak berpindah: bergoyang, membungkuk, merentang, mendorong, menarik, memeluk, berputar
        Contoh gerakan berpindah: merangkak, maju perlahan-lahan, muluncur, berjalan, berlari, meloncat-loncat, berputar mengitari, memanjat.
        Contoh gerakan manipulasi: menyusun balok/blok, menggunting, menggambar dengan krayon, memegang dan melepas objek, blok atau mainan.
        Keterampilan gerak tangan dan jari-jari: memainkan bola, menggambar.
III.GerakanPersepsi
(Perceptualobilities)
Arti : Gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual
Contoh kegiatan belajar:
        menangkap bola, mendrible bola
        melompat dari satu petak ke petak lain dengan 1 kali sambil menjaga keseimbangan
        memilih satu objek kecil dari sekelompok objek yang ukurannya bervariasi
        membaca melihat terbangnya bola pingpong
        melihat gerakan pendulun menggambar simbol geometri
        menulis alphabet
        mengulangi pola gerak tarian
        memukul bola tenis, pingpong
        membedakan bunyi beragam alat music
        membedakan suara berbagai binatang
        mengulangi ritme lagu yang pernah didengar
        membedakan berbagai tekstur dengan meraba
IV.Gerakan Kemampuan fisik (Psycal abilities)
Arti: gerak lebih efisien, berkembang melalui kematangan dan belajar
Contoh kegiatan belajar:
-          menggerakkan otot/sekelompok otot selama waktu tertentu berlari jauh, mengangkat beban, menarik-mendorong, melakukan push-up, kegiatan memperkuat lengan, kaki dan perut, menari, melakukan senam, melakukan gerakan pesenam, pemain biola, pemain bola.
V. gerakan terampil (Skilledmovements)
Arti: dapat mengontrol berbagai tingkat gerak – terampil, tangkas, cekatan melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks)
Contoh kegiatan belajar:
        melakukan gerakan terampil berbagai cabang olahraga
        menari, berdansa
        membuat kerajinan tangan
        menggergaji
        mengetik
        bermain piano
        memanah
        skating
        melakukan gerak akrobatik
        melakukan koprol yang sulit
VI. Gerakan indah dan kreatif
(Non-discursive communicatio)
Arti: mengkomunikasikan perasaan melalui gerakan
        gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah
        gerakan kreatif: gerakan-gerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran
Contoh kegiatan belajar:
kerja seni yang bermutu (membuat patung, melukis, menari balet, melakukan senam tingkat tinggi, bermain drama (acting),  keterampilan olahraga tingkat tinggi










































































1. Untuk Validitas
Banyak teori dalam matematika. Jika seseorang belajar teori (kognitif), ia harus mempraktikkannya (psikomotor). Tetapi dalam menilai kemampuan seseorang, aktivitas psikomotorik kedua relevan untuk mengkonfirmasi validitas konsep teoretis pertama. Tes pertama menjadi prediktor untuk kriteria mis. jika seorang anak diajar Teorema Pythagoras bahwa 32 + 42 = 9 + 16 = 25; untuk mengkonfirmasi pemahaman konsep ini, anak diberikan diagram berikut untuk penilaian.


Diagram ini dapat dibangun secara struktural menggunakan lembaran kardus oleh siswa untuk menyesuaikan perolehan pengetahuan. Ini dapat dilakukan dalam validitas bersamaan waktu singkat. Juga karena ada taksonomi tujuan psikomotorik, mereka dapat membantu untuk memvalidasi matematika. Dengan menggunakan balok pada segitiga, latihan dapat mengkonfirmasi pemahaman.

2. Menggunakan Instrumen Matematika sebagai Dasar untuk Tugas Baru
Jika seorang siswa belum menguasai tugas sebelumnya, tugas selanjutnya tidak dapat dikuasai. Panggilan Plaget jika fiksasi. Sebuah tugas menggambarkan aksi kerja dan properti psikomotorik. Sebagai contoh jika seorang pelajar dalam mengendarai mobil dan belum menguasai "isyarat" atau bagian-bagian dari mobil dan fungsinya, gerakan motor tidak mungkin. Tahap ini disebut tahap kognitif. Tahap kedua adalah menerapkan kognitif untuk pengembangan psikomotor yang disebut tahap menengah. Dan tahap ketiga adalah tahap otonom (penguasaan atau efisien), yang sebagian besar adalah psikomotor.
3. Psikomotor Menempati Ruang dan Waktu
Mkpa (1984) mengatakan bahwa “Sejauh kita dapat mendorong sejarah manusia; seseorang menemukan bahwa sebagian besar pembelajaran manusia berkaitan dengan keterampilan manipulatif. ”Seperti yang dikatakan penulis dalam pendahuluan, bahkan di zaman modern, psikomotor terlibat dalam semua aspek profesi dan usaha manusia.
Manusia dalam upaya untuk menaklukkan bumi dalam semua konsekuensi menyerukan aktivitas psikomotorik. Maka akan aneh (seperti yang kita temukan hari ini) bahwa guru tidak menilai siswa dalam “psikomotor.” Seorang insinyur harus membangun rumah untuk dapat menilai pembangun rumah. Pendidikan jasmani di mana banyak kegiatan psikomotorik telah menelan seluruh dunia dalam olahraga, sepak bola, bola basket, dll.
Dalam profesi pendidikan jasmani kesehatan, penilaian murni pada aktivitas psikomotorik, menggunakan banyak jenis instrumen dan tes. Apa yang terjadi di Inggris dan Amerika Serikat dibandingkan dengan apa yang diperoleh di Nigeria tidak dapat dibandingkan karena kita kurang di belakang. Kaum muda menginginkan tindakan dan tindakan harus diarahkan pada produktivitas secara positif.
Jadi, perlu menggunakan psikomotor untuk mengukur jarak (meter); berat (kilogram), dan semua variabel alam. Ini matematika dalam psikomotor.

4. Hukum Kedekatan
Dengan menggunakan eksperimen terkontrol lvan Parlour (1927) tentang pembelajaran asosiasi melalui pengondisian sebagai isyarat, kita dapat menyimpulkan bahwa rangsangan dan peristiwa adalah kunci untuk pengakuan.
Good and Brophy (1986): 165) menjelaskan bahwa kunci untuk pengakuan "asosiasi petir dan guntur ini adalah kedekatan."
Namun, biasanya, asosiasi berkembang secara bertahap melalui kombinasi kedekatan dan pengulangan - pertemuan berulang dengan item terkait membuat kita semakin menyadari fakta bahwa mereka terkait. Kita menjadi terkondisi untuk mengharapkan rangsangan asosiasi terjadi bersama.
Jika seorang guru mengajar dengan alat bantu, instrumen, instrumen visual, verbalisasi, gerakan, ia harus menilai juga menggunakan kriteria yang sama. Dalam matematika, tidak relevan untuk pergi ke ruang ujian untuk menilai tanpa menggunakan kriteria yang sama seperti verbalisasi, instrumen, aksi bantu atau gerakan. Ini berorientasi psikomotor. Jadi, penting untuk menerapkan kedekatan dalam menilai matematika seperti dalam mengajar juga. Ketika siswa melihat kubus (nyata atau improvisasi) dengan (3x3x3) cm3 dengan konsep x3 (XxXxX), ini menghilangkan abstraksi.

5. Konsep Piagets / Perkembangan Kognitif Bruno via Psychomotor of a Child
Plaget percaya pada mainan, sementara Bruno percaya pada ikon, gambar dalam perkembangan untuk meningkatkan perkembangan kognitif anak. Kognitif dan psikomotor saling melengkapi sehingga sulit untuk menarik garis di mana seseorang berhenti.
Psikologi percaya bahwa tujuh tahun pertama seorang anak sangat penting untuk perkembangan di kemudian hari.
Jika seorang anak melewatkan tahapan sebelumnya, seperti yang kami katakan; fiksasi / blokade akan ada. Agar berhasil di kemudian hari, seorang anak harus diajar dengan diagram, mainan, instrumen, gadget, dll. Karena anak bersifat eksplorasi (psikomotor), menjadi penting untuk melengkapi anak dengan padatan matematika, bentuk, diagram, dan persiapan lainnya. untuk memahami variabel hipotetis kompleks tidak hanya di dimensi ketiga, tetapi juga, di dimensi keempat (roh atau alam gaib). Ini juga mempersiapkan anak untuk mengenali simbol geometris. Jadi penilaian dalam psikomotorik adalah tahap yang relevan dan akhir untuk berangkat ke dimensi baru atau memiliki umpan balik untuk koreksi, pada bentuk, padatan dan pengukuran mereka.

6. Hukum Pematangan Morfologi Antisipatif
               Menurut Nkwocha et al (1996: 17) ini berarti bahwa organisme seperti janin (anak) mengantisipasi kebutuhannya dan karena itu, ia cenderung mengembangkan kapasitas alami (kemampuan) yang akan memungkinkannya untuk memenuhi tantangan di masa depan ketika kebutuhan muncul. misalnya janin (janin) mengembangkan kecenderungan mengisap, karena setelah kelahiran, anak akan perlu menyusui. Pada saat ini, anak sudah dewasa. Pepatah Lama mengatakan, "Latihan membuat sempurna." Guru harus berlatih instrumen psikomotorik dengan siswa untuk tantangan di masa depan.
               Profesi yang berbeda memiliki jenis elemen atau level psikomotor yang berbeda, sehingga berbagai praktik psikomotor melengkapi anak untuk masa depan .. jika seorang anak diuji pada tahap awal dengan umpan balik, itu dapat membantu untuk memeriksa kegagalan di masa depan dalam profesi yang berhubungan dengan subjek seperti mis. jika seorang siswa tidak dapat memahami konsep daya tarik dan zat besi dalam fisika, ia tidak dapat mengembangkan tugas-tugas makro yang membutuhkan pengetahuan dasar dan dasar seperti itu. Ini ada hubungannya dengan konsep pembesaran. Lihat diagram di bawah ini:

7. Gerakan (Psikomotor) untuk Menyeimbangkan Tiga Domain
               Ada kebutuhan untuk menyeimbangkan ketidakseimbangan di antara tiga domain hasil pembelajaran. Di seluruh Nigeria, psikomotor muncul dalam derajat yang lebih rendah di sebagian besar kurikulum sekolah. Alasan dan faktor yang bertanggung jawab bisa jadi faktor ekstrinsik atau faktor asing lainnya, tetapi faktanya tetap bahwa tes kognitif lebih lazim. Jadi psikomotorik karenanya harus diberikan "Penekanan yang layak adalah implementasi kurikulum" Mkpa (1984: 91)

8. Deteksi Dini Masalah pada Kemajuan
               Kecuali ada matematika psikomotorik baik secara verbal, memanipulasi instrumen, dalam sumatif, evaluasi formatif, blok, kesalahan, kesalahan atau ketidaktahuan, dll. Tidak dapat dengan mudah dideteksi untuk koreksi awal; atau jika bagus, maka dorongan dan konseling menjadi profesi yang baik.       Ketika seorang anak melakukan tugas / tes (formatif); umpan balik menginformasikan siswa untuk memperbaiki kesalahan, untuk menghindari blokade di masa depan. Jika ada kesuksesan, tahap selanjutnya mengambil alih dan bisa lebih kognitif daripada psikomotor, mis. garis paralel membuat sudut alternatif, sudut tambahan, sudut yang sesuai, dll. Konsep-konsep ini dapat diubah menggunakan potongan kertas untuk menunjukkan konsep ini sambil mengukur dengan instrumen matematika dari konsep tersebut. Jika tidak jelas bagi siswa, ia kembali untuk koreksi.

Masalah : Domain psikomotor adalah faktor yang penting dalam memahami konsep matematika, domain psikomotor ini terbentuk dari domain kognitif dan apektif. Nah menurut kalian para pembaca bagaimana kita menyeimbangkan ke 3 domain ini dan bagaimana seharusnya siswa yang sudah terpenuhi 3 domain tersebut besikap ? serta mungkinkah domain tersebut akan bertambah pada masa yang akan datang ?


Refleksi 4 - "Penilaian Evaluasi"

Refleksi “Evaluasi Proses dan Hasil Pembelajaran Matematika” Nama              : BJ NOFRIAN KURNIA NIM                 : P2A 91800...