Assalammu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakaatuh
Alhamdulillahi rabbil
alamiin, Nahmaduhu wanastaiinu wanastaghfiruhu, wana udzubillahi min syururi
anfusina wamin saayyiati a’malina, mayahdillahu fala mudhillalaah
wamaayudhlilhu fala haadiya lahu, Allahumma shalli wa sallim a’la sayyidinaa
muhammadin wa a’la alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.
Kembali lagi bersama saya Bj. Nofrian Kurnia, S.Pd, pada hari senin
kemaren tepatnya tanggal 10 September 2018 saya selaku penulis dan dua
teman saya yaitu Rifni Anjani, S.Pd dan Lesa Taman Sari, S.Pd telah melakukan
observasi di salah satu SMP Negeri yang ada di kota Jambi untuk menemukan suatu
permasalahan dalam pembelajaran khususnya pada mata pelajaran Matematika dan
disini saya meneliti dan mengambil video pada kelas IX. Pada kelas tersebut
masih menggunakan kurikulum KTSP serta materi yang disampaikan adalah “Mengidentifikasikan
Unsur-unsur Tabung, Kerucut dan Bola. Beberapa permasalahan yang saya dapatkan
pada pembelajaran matematika tersebut antara lain :
1.
Di awal
pelajaran guru mengucapkan salam dan memberi tahu materi yang akan dipelajari
dan langsung menulis di papan tulis tanpa memperhatikan kesiapan belajar siswa
dan tidak memotivasi siswa terlebih dahulu.
2.
Guru meminta
siswa untuk maju kedepan dan membuat lingkaran serta menuliskan unsur-unsur
lingkaran namun siswa hanya diam.
3.
Setelah
sekian lama guru menunjuk seorang siswi maju kedepan kelas untuk membuat
lingkaran dengan menggunakan busur.
4.
Guru
mengamati murid yang membuat lingkaran dari belakang.
5.
Guru meminta
murid yang lain untuk menuliskan unsur-unsur lingkaran namun tidak mendapat
respon jadi murid yang membuat lingkaran tadi di tunjuk kembali
6.
Guru
mengambil alat peraga tabung untuk mengenalkannya kepada siswa
7.
Guru bertanya
apa saja benda yang seperti tabung dalam kehidupan sehari-hari dan murid
menjawab namun guru tidak menyuruh untuk menemukan di kelas terlebih dahulu.
8.
Guru menggambar
tabung dan kerucut di papan tulis serta menjelaskan unsur-unsurnya namun siswa
kelihatan mengantuk dan kurang semangat.
9.
Guru memberikan
LKS dengan soal tentang Tabung, Kerucut dan Bola dengan di kerjakan secara
kelompok namun guru tidak membagi kelompok dan duduk di meja guru serta
sesekali guru berjalan dan memperhatikan keadaan siswa dan materi tentang Bola
belum di jelaskan.
Proses
pendidikan mencakup proses belajar, proses mengajar dan proses berpikir
kreatif. Syah (2008:248) mengungkapkan bahwa, “Dalam setiap proses belajar
mengajar di sekolah sekurang-kurangnya melibatkan empat komponen pokok, yaitu:
individu siswa, guru, ruang kelas dan kelompok siswa”. Semua komponen ini
memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang unik dan berpengaruh terhadap
jalannya proses belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar, pendukung
keberhasilan seorang guru dalam pembelajaran tidak hanya dari kemampuannya
dalam menguasai materi akan tetapi faktor lain pun dapat mendukung, seperti
penggunaan metode dan media yang tepat dalam proses pembelajaran tersebut. Hal
ini harus diperhatikan karena akan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan
pembelajaran.
Pandangan umum yang
masih dianut oleh guru dan masih berlaku sampai sekarang ialah bahwa dalam
proses belajar mengajar, pengetahuan dialihkan dari guru kepada siswa. Guru
masih menggunakan model pembelajaran konvensional yang berlangsung satu arah
yaitu guru menerangkan dan siswa mendengarkan, mencatat lalu menghafalnya
sehingga tujuan pembelajaran akan cepat selesai. Dalam proses pembelajaran
matematika guru umumnya terlalu berkonsentrasi pada latihan menyelesaikan soal
yang lebih bersifat prosedural dan mekanistis daripada menanamkan pemahaman.
Dalam kegiatan pembelajaran guru biasanya menjelaskan konsep secara informatif,
memberikan contoh soal, dan memberikan soal-soal latihan.
Menurut Armanto (dalam Herman, 2010:3) tradisi mengajar seperti ini
merupakan karakteristik umum bagaimana guru melaksanakan pembelajaran di
Indonesia. Pembelajaran matematika konvensional bercirikan: berpusat pada guru,
guru menjelaskan matematika melalui metode ceramah (chalk-and-talk), siswa pasif, pertanyaan dari siswa
jarang muncul, berorientasi pada satu jawaban yang benar, dan aktivitas kelas
yang sering dilakukan hanyalah mencatat atau menyalin. Akibatnya siswa menjadi
kurang aktif dan pembelajaran merupakan suatu hal yang membosankan bagi siswa,
sehingga dapat menurunkan motivasi belajar dan inisiatif siswa untuk bertanya
dan mengungkapkan ide. Karenanya kemampuan guru dalam memilih metode
mengajar merupakan hal penting dalam kegiatan belajar mengajar. Kekurangan guru
dalam memilih metode mengajar bisa menjadi salah satu penyebab kurang baiknya
hasil belajar siswa.
Menyikapi permasalahan-permasalahan yang timbul dalam pendidikan
matematika di sekolah, terutama yang berkaitan dengan prestasi belajar siswa,
praktek pembelajaran di kelas, pentingnya meningkatkan kemampuan berpikir
matematis tingkat tinggi, salah satu solusinya adalah dengan meningkatkan
kualitas pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas, penulis berpendapat bahwa
untuk membuat pelajaran matematika menjadi bermakna, efektif serta banyak
disukai oleh siswa maka perlu digunakannya multimedia dan model pembelajaran
yang menarik salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif.
Model pembelajaran
kooperatif merupakan strategi belajar dalam kelompok kecil, yang memungkinkan
siswa saling membantu dalam memahami suatu konsep, memeriksa dan memperbaiki
jawaban teman sebagai masukan serta kegiatan lain yang bertujuan untuk mencapai
hasil belajar yang optimal. Aktivitas pembelajaran kooperatif disamping
menekankan pada kesadaran siswa belajar, memecahkan masalah dan mengaplikasikan
pengetahuan, konsep serta keterampilan kepada teman lain, siswa akan merasa
senang menyumbangkan pengetahuannya kepada teman atau anggota lain dalam
kelompoknya. Oleh karena itu belajar kooperatif adalah saling menguntungkan
antar siswa yang berkemampuan rendah, sedang dan siswa yang berkemampuan
tinggi.
Saat saya observasi di sekolah tersebut guru mengatakan Proyektornya cuma
satu dan tidak bisa di gunakan di kelas di karenakan sarana dan pra-sarana yang
belum memadai jadi kesimpulannya kembali lagi ke pemerintah, bahwa pemerintah
harus memperhatikan sarana dan prasarana di sekolah tersebut. Setelah sarana
dan prasarana cukup dan bisa menggunakan proyektor maka saya menyarankan
penggunaan Model Kooperatif dan aplikasi PowerPoint, dengan menggunakan powerpoint akan memudahkan kita dalam memberi ilmu kepada murid apalagi materinya bangun ruang sisi lengkung akan lebih mudah menjelaskannya jika murid bisa membayangkan bentuk konkret dari apa benda tersebut. Powerpoint juga sesuai dengan landasan teoritis multimedia pembelajaran terutama landasan teknologis sehingga sesuai dengan perkembangan zaman.
Jika sobat memiliki saran dan solusi lain dari permasalahan yang
saya temukan di atas silahkan tinggalkan jejak berupa komen yang membangun
untuk penulis, saran dan kritiknya sangat membantu disini untuk kelangsungan
Blog saya yang lebih baik.
Terimakasih.
Semoga bermanfaat JJJ
Klik Link https://youtu.be/uxa1zxv19JY untuk melihat video
Dokumen Pendukung :
![]() |
| Gambar 1. LKS Halaman 1 |
![]() |
| Gambar 2. LKS Halaman 2 |


Menurut saya, Berdasarkan solusi yang telah penulis berikan terhadap permasalahan yang terjadi yaitu menggunakan Model Kooperatif dan aplikasi Geogebra 3D sudah cocok. akan tetapi selain menggunakan aplikasi tersebut, penulis sebenarnya juga bisa menggunkan multimedia lain yaitu berupa software Macromedia Flash dan corel draw.dimana dengan menggunakan macromedia flash dan coreldraw kita bisa membuat materi pembelajaran menjadi menarik, efektif dan efisien dengan mencantumkan teks,gambar,grafik,animasi sederhana,video, audio ataupun efek2 khusus lainnya. mengingat materi yang diajarkan pada saat penulis melakkan observasi yaitu “Mengidentifikasikan Unsur-unsur Tabung, Kerucut dan Bola. sehingga macromedia flash dan coreldraw sangatlah cocok.
ReplyDeleteMenurut penulis,apa kaitan Geogebra 3d dengan landasan teoritis multimedia pembelajaran ?
ReplyDeleteMenurut penulis,apa kaitan Geogebra 3d dengan landasan teoritis multimedia pembelajaran ?
ReplyDelete