Wednesday, September 12, 2018

Permasalahan Pembelajaran Matematika di Kelas


Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Alhamdulillahi rabbil alamiin, Nahmaduhu wanastaiinu wanastaghfiruhu, wana udzubillahi min syururi anfusina wamin saayyiati a’malina, mayahdillahu fala mudhillalaah wamaayudhlilhu fala haadiya lahu, Allahumma shalli wa sallim a’la sayyidinaa muhammadin wa a’la alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.
Kembali lagi bersama saya Bj. Nofrian Kurnia, S.Pd, pada hari senin kemaren tepatnya tanggal 10 September 2018 saya selaku penulis dan dua teman saya yaitu Rifni Anjani, S.Pd dan Lesa Taman Sari, S.Pd telah melakukan observasi di salah satu SMP Negeri yang ada di kota Jambi untuk menemukan suatu permasalahan dalam pembelajaran khususnya pada mata pelajaran Matematika dan disini saya meneliti dan mengambil video pada kelas IX. Pada kelas tersebut masih menggunakan kurikulum KTSP serta materi yang disampaikan adalah “Mengidentifikasikan Unsur-unsur Tabung, Kerucut dan Bola. Beberapa permasalahan yang saya dapatkan pada pembelajaran matematika tersebut antara lain :
1.      Di awal pelajaran guru mengucapkan salam dan memberi tahu materi yang akan dipelajari dan langsung menulis di papan tulis tanpa memperhatikan kesiapan belajar siswa dan tidak memotivasi siswa terlebih dahulu.
2.      Guru meminta siswa untuk maju kedepan dan membuat lingkaran serta menuliskan unsur-unsur lingkaran namun siswa hanya diam.
3.      Setelah sekian lama guru menunjuk seorang siswi maju kedepan kelas untuk membuat lingkaran dengan menggunakan busur.
4.      Guru mengamati murid yang membuat lingkaran dari belakang.
5.      Guru meminta murid yang lain untuk menuliskan unsur-unsur lingkaran namun tidak mendapat respon jadi murid yang membuat lingkaran tadi di tunjuk kembali
6.      Guru mengambil alat peraga tabung untuk mengenalkannya kepada siswa
7.      Guru bertanya apa saja benda yang seperti tabung dalam kehidupan sehari-hari dan murid menjawab namun guru tidak menyuruh untuk menemukan di kelas terlebih dahulu.
8.      Guru menggambar tabung dan kerucut di papan tulis serta menjelaskan unsur-unsurnya namun siswa kelihatan mengantuk dan kurang semangat.
9.      Guru memberikan LKS dengan soal tentang Tabung, Kerucut dan Bola dengan di kerjakan secara kelompok namun guru tidak membagi kelompok dan duduk di meja guru serta sesekali guru berjalan dan memperhatikan keadaan siswa dan materi tentang Bola belum di jelaskan.

Proses pendidikan mencakup proses belajar, proses mengajar dan proses berpikir kreatif. Syah (2008:248) mengungkapkan bahwa, “Dalam setiap proses belajar mengajar di sekolah sekurang-kurangnya melibatkan empat komponen pokok, yaitu: individu siswa, guru, ruang kelas dan kelompok siswa”. Semua komponen ini memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang unik dan berpengaruh terhadap jalannya proses belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar, pendukung keberhasilan seorang guru dalam pembelajaran tidak hanya dari kemampuannya dalam menguasai materi akan tetapi faktor lain pun dapat mendukung, seperti penggunaan metode dan media yang tepat dalam proses pembelajaran tersebut. Hal ini harus diperhatikan karena akan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pembelajaran.
          Pandangan umum yang masih dianut oleh guru dan masih berlaku sampai sekarang ialah bahwa dalam proses belajar mengajar, pengetahuan dialihkan dari guru kepada siswa. Guru masih menggunakan model pembelajaran konvensional yang berlangsung satu arah yaitu guru menerangkan dan siswa mendengarkan, mencatat lalu menghafalnya sehingga tujuan pembelajaran akan cepat selesai. Dalam proses pembelajaran matematika guru umumnya terlalu berkonsentrasi pada latihan menyelesaikan soal yang lebih bersifat prosedural dan mekanistis daripada menanamkan pemahaman. Dalam kegiatan pembelajaran guru biasanya menjelaskan konsep secara informatif, memberikan contoh soal, dan memberikan soal-soal latihan.
Menurut Armanto (dalam Herman, 2010:3) tradisi mengajar seperti ini merupakan karakteristik umum bagaimana guru melaksanakan pembelajaran di Indonesia. Pembelajaran matematika konvensional bercirikan: berpusat pada guru, guru menjelaskan matematika melalui metode ceramah (chalk-and-talk), siswa pasif, pertanyaan dari siswa jarang muncul, berorientasi pada satu jawaban yang benar, dan aktivitas kelas yang sering dilakukan hanyalah mencatat atau menyalin. Akibatnya siswa menjadi kurang aktif dan pembelajaran merupakan suatu hal yang membosankan bagi siswa, sehingga dapat menurunkan motivasi belajar dan inisiatif siswa untuk bertanya dan mengungkapkan ide.  Karenanya kemampuan guru dalam memilih metode mengajar merupakan hal penting dalam kegiatan belajar mengajar. Kekurangan guru dalam memilih metode mengajar bisa menjadi salah satu penyebab kurang baiknya hasil belajar siswa.
Menyikapi permasalahan-permasalahan yang timbul dalam pendidikan matematika di sekolah, terutama yang berkaitan dengan prestasi belajar siswa, praktek pembelajaran di kelas, pentingnya meningkatkan kemampuan berpikir matematis tingkat tinggi, salah satu solusinya adalah dengan meningkatkan kualitas pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas, penulis berpendapat bahwa untuk membuat pelajaran matematika menjadi bermakna, efektif serta banyak disukai oleh siswa maka perlu digunakannya multimedia dan model pembelajaran yang menarik salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dalam kelompok kecil, yang memungkinkan siswa saling membantu dalam memahami suatu konsep, memeriksa dan memperbaiki jawaban teman sebagai masukan serta kegiatan lain yang bertujuan untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Aktivitas pembelajaran kooperatif disamping menekankan pada kesadaran siswa belajar, memecahkan masalah dan mengaplikasikan pengetahuan, konsep serta keterampilan kepada teman lain, siswa akan merasa senang menyumbangkan pengetahuannya kepada teman atau anggota lain dalam kelompoknya. Oleh karena itu belajar kooperatif adalah saling menguntungkan antar siswa yang berkemampuan rendah, sedang dan siswa yang berkemampuan tinggi.
Saat saya observasi di sekolah tersebut guru mengatakan Proyektornya cuma satu dan tidak bisa di gunakan di kelas di karenakan sarana dan pra-sarana yang belum memadai jadi kesimpulannya kembali lagi ke pemerintah, bahwa pemerintah harus memperhatikan sarana dan prasarana di sekolah tersebut. Setelah sarana dan prasarana cukup dan bisa menggunakan proyektor maka saya menyarankan penggunaan Model Kooperatif dan aplikasi PowerPoint, dengan menggunakan powerpoint akan memudahkan kita dalam memberi ilmu kepada murid apalagi materinya bangun ruang sisi lengkung akan lebih mudah menjelaskannya jika murid bisa membayangkan bentuk konkret dari apa benda tersebut. Powerpoint juga sesuai dengan landasan teoritis multimedia pembelajaran terutama landasan teknologis sehingga sesuai dengan perkembangan zaman.
Jika sobat memiliki saran dan solusi lain dari permasalahan yang saya temukan di atas silahkan tinggalkan jejak berupa komen yang membangun untuk penulis, saran dan kritiknya sangat membantu disini untuk kelangsungan Blog saya yang lebih baik.
Terimakasih.
Semoga bermanfaat JJJ

Klik Link https://youtu.be/uxa1zxv19JY untuk melihat video
Dokumen Pendukung :

Gambar 1. LKS Halaman 1

Gambar 2. LKS Halaman 2


3 comments:

  1. Menurut saya, Berdasarkan solusi yang telah penulis berikan terhadap permasalahan yang terjadi yaitu menggunakan Model Kooperatif dan aplikasi Geogebra 3D sudah cocok. akan tetapi selain menggunakan aplikasi tersebut, penulis sebenarnya juga bisa menggunkan multimedia lain yaitu berupa software Macromedia Flash dan corel draw.dimana dengan menggunakan macromedia flash dan coreldraw kita bisa membuat materi pembelajaran menjadi menarik, efektif dan efisien dengan mencantumkan teks,gambar,grafik,animasi sederhana,video, audio ataupun efek2 khusus lainnya. mengingat materi yang diajarkan pada saat penulis melakkan observasi yaitu “Mengidentifikasikan Unsur-unsur Tabung, Kerucut dan Bola. sehingga macromedia flash dan coreldraw sangatlah cocok.

    ReplyDelete
  2. Menurut penulis,apa kaitan Geogebra 3d dengan landasan teoritis multimedia pembelajaran ?

    ReplyDelete
  3. Menurut penulis,apa kaitan Geogebra 3d dengan landasan teoritis multimedia pembelajaran ?

    ReplyDelete

Refleksi 4 - "Penilaian Evaluasi"

Refleksi “Evaluasi Proses dan Hasil Pembelajaran Matematika” Nama              : BJ NOFRIAN KURNIA NIM                 : P2A 91800...